MENYAMBUT BULAN KITAB SUCI NASIANAL
Paroki St. Fransiskus Asisi Resapombo Kevikepan Blitar
Keuskupan Surabaya
Menyambut
Bulan Kitab Suci Nasional di Keuskupan Surabaya telah mengusung tema :
“MEMBAWA KABAR
GEMBIRA DI TENGAH
ARUS ZAMAN MODERN”
Berjaga-jagalah
dan waspadalah terhadap segala ketamakan (lukas 12:15)
ada 4 pertemuan:
Ø
Pertemuan 2 “Menjadi Kaya di Hadapan Allah (Luk
12:13-21)”
Ø
Pertemuan 3 “Mereka Disukai Semua Orang (Kis
2:41-47)”
Ø
Pertemuan 4 “Berjalan Bersama Dengan Tuhan (Yak
3:14-4:3)”
Mengenal
Bulan Kitab Suci Nasional
Pada
bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan
Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk
mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di
kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca Kitab Suci, pendalaman Kitab
Suci di lingkungan, pameran buku dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu
pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan
Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk Kitab Suci,
dan Kitab Suci ditempatkan di tempat yang istimewa.
Sejak kapan tradisi Bulan
Kitab Suci Nasional ini berawal? Untuk apa? Untuk mengetahui latar belakang
diadakannya BKSN ini kita perlu melihat kembali Konsili Vatikan II. Salah satu
dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II yang berbicara mengenai Kitab
Suci adalah Dei Verbum (DV). Dalam Dei Verbum,
para bapa Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab Suci dibuka
lebar-lebar bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat
beriman untuk tekun membaca Kitab Suci.
Bagaimana jalan masuk itu
dibuka? Pertama-tama, dengan menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat,
dalam hal ini Bahasa Indonesia. Usaha ini sebenarnya telah dimulai sebelum
Konsili Vatikan II dan Gereja Katolik telah selesai menerjemahkan seluruh Kitab
Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun, Konsili Vatikan II
menganjurkan agar diusahakan terjemahan Kitab Suci ekumenis, yakni
terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mengikuti anjuran
Konsili Vatikan II ini, Gereja Katolik Indonesia mulai “meninggalkan”
terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang merupakan hasil kerja keras
para ahli Katolik, dan memulai kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia.
Dengan demikian, mulailah
pemakaian Kitab Suci terjemahan bersama, yang merupakan terjemahan resmi yang
diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja-gereja Protestan di Indonesia.
Yang membedakan hanyalah Kitab-kitab Deuterokanonika yang diakui termasuk dalam
Kitab Suci oleh Gereja Katolik namun tidak diakui oleh Gereja-gereja Protestan.
Kitab Suci telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat Katolik Indonesia belum
mengenalnya, dan belum mulai membacanya. Mengingat hal itu, Lembaga Biblika
Indonesia (LBI), yang merupakan Lembaga dari Konferensi Waligereja Indonesia
(KWI) untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk
memperkenalkan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai
membaca Kitab Suci. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan
sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara
nasional. LBI mengusulkan dan mendorong agar keuskupan-keuskupan dan
paroki-paroki seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan
sekitar Kitab Suci pada Hari Minggu tertentu.
LBI telah dua kali
mencobanya. Pada tahun 1975 dalam rangka menyambut terbitnya Alkitab lengkap
ekumenis, LBI menyarankan agar setiap paroki mengadakan Misa Syukur pada bulan
Agustus. Bahan-bahan liturgi dan saran-saran kegiatan yang dapat dilakukan
beberapa bulan sebelumnya dikirimkan ke keuskupan-keuskupan. Percobaan kedua
dilakukan pada tahun 1976. Akhir Mei 1976 dikirimkan bahan-bahan langsung
kepada pastor-pastor paroki untuk Hari Minggu Kitab Suci tanggal 24/25 Juli
1976, ditambah lampiran contoh pendalaman, leaflet, tawaran bahan diskusi, dan
lain-lain.
Walaupun dua kali
percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti yang diharapkan, LBI toh
meyakini bahwa Hari Minggu Kitab Suci harus diteruskan dan diusahakan, dengan
tujuan sebagai berikut:
1.
Untuk mendekatkan dan
memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci juga diperuntukkan bagi umat
biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilahkan
melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sebagai sumber dari kehidupan
iman mereka.
2.
Untuk mendorong agar umat
memiliki dan menggunakannya. Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu
didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab
suci di rumahnya. Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk
memperdalam iman kepercayaannya sendiri.
Dalam sidang MAWI (Majelis
Agung Waligereja Indonesia; sekarang dikenal dengan KWI) tahun 1977, para uskup
menetapkan agar satu hari Minggu tertentu dalam tahun gerejani ditetapkan
sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari Minggu yang dimaksudkan adalah
Hari Minggu Pertama September. Dalam perkembangan selanjutnya keinginan umat
untuk membaca dan mendalami Kitab Suci semakin berkembang. Satu Minggu dirasa
tidak cukup lagi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci. Maka,
kegiatan-kegiatan ini berlangsung sepanjang Bulan September dan bulan ke-9 ini
sampai sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional
GAGASAN PENDUKUNG
Arus zaman dunia modern melanda seluruh bangsa manusia
termasuk Gereja. Banyak hal positif yang dihasilkannya. Arus aman teknologi,
misalnya, membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Informasi dan
komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat. Kemudahan dan kecepatannya menjadikan
dunia bagaikan satu desa kecil. Itulah sebabnya, Gereja dianjurkan juga untuk
menggemakan Sabda Allah tidak hanya melalui media cetak, tetapi juga melalui
bentuk-bentuk komunikasi yang lain terutama internet.
Namun, tidak sedikit pula hal negatif yang dimunculkan oleh arus zaman
modern sehingga perlu diteliti secara cermat agar bisa diperbaiki. Hal ini
disebut oleh Paus Fransiskus dalam himbauan apostoliknya, Evangelii Gaudium,
suka cita injil. Dalam himbauan apostolik tersebut dilukiskan masalah besar
yang melanda dunia modern yang akhirnya ikut melanda Gereja juga.
Masalah-masalah besar itu terkait dengan mentalitas negatif budaya modern
seperti konsumerisme, hedonisme, sekularisme, individualisme, kesenjangan
sosial, dan fundamentalisme agama. Maka, Paus Fransiskus menyerukan kepada
semua komunitas untuk selalu meneliti dengan cermat tanda-tanda zaman dan
menanggapinya secara efektif.
Dalam konteks meneliti dan menanggapi tantangan yang dihadapi oleh dunia
modern yang akhirnya juga ikut melanda Gereja, Bulan Kitab Suci Nasional tahun
2017 mengambil tema, “Kabar Gembira Di Tengah Gaya Hidup Modern.” Tema ini
dijabarkan dalam empat sub tema. Pertama, arus zaman teknologi dan nilai-nilai injili
dalam kisah menara Babel (Kej. 11:1-9). Kedua, arus zaman materialisme dan
nilai-nilai injili dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13-21).
Ketiga, arus zaman individualisme dan nilai-nilai injili dalam kisah cara hidup
jemaat perdana (Kis. 2:41-47). Keempat, arus zaman hedonisme dan nilai-nilai
injili dalam nasihat Yakobus tentang hikmat dan hawa nafsu (Yak. 3:14-4:3).
Melalui keempat sub tema ini diharapkan umat kristiani tidak terseret dan
terhanyut oleh arus zaman modern dengan terus berpegang pada nilai-nilai
injili.
7
1 ARUS
ZAMAN TEKNOLOGI DAN NILAI-NILAI INJILI
Dewasa ini teknologi berkembang begitu cepat. Perkembangan dan kemajuannya
terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Banyak hal
positif yang dihasilkannya. Pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien.
Informasi dan komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat. Kemudahan dan
kecepatannya menjadikan dunia bagaikan satu desa kecil.
Akan tetapi, perkembangan dan kemajuan teknologi itu membawa banyak dampak
negatif bagi manusia dan lingkungannya. Teknologi informasi dan komunikasi,
misalnya, telah membuat banyak orang, terutama kaum muda, kehilangan arah
karena tidak bisa menggunakannya secara bijak. Jika Informasi dan nilai-nilai
hidup yang ditawarkannya tidak dapat dipilah-pilah, banyak masalah sosial yang
akan timbul. Keretakan dalam hubungan keluarga, lingkungan, dan Tuhan muncul
akibat pemakaian alat komunikasi secara tidak bijak.
Bagaimana Kitab Suci berbicara tentang perkembangan dan kemajuan teknologi?
Kitab Suci tidak banyak bicara atau relatif diam. Hal ini tentu saja tidak
terlalu mengherankan. Budaya zaman penulis Kitab Suci berbeda dengan zaman kita
yang ditandai dengan pesatnya kemajuan alat-alat teknologi komunikasi. Maka,
kita tidak akan menemukan komentar langsung tentang perkembangan dan kemajuan
teknologi di dalam Kitab Suci. Kita juga tidak akan menemukan di dalamnya
pembicaraan tentang dampaknya secara langsung. Namun, kita dapat mengangkat
kisah menara Babel untuk merefleksikan dampaknya (Kej. 11:1-9).
KISAH MENARA BABEL (Kej. 11:1-9)
1Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 2Maka berangkatlah
mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu
menetaplah mereka di sana. 3Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah
kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai
mereka sebagai batu dan tér galagala sebagai tanah liat. 4Juga kata mereka:
“Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya
sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke
seluruh bumi.” 5Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang
didirikan oleh anak-anak manusia itu, 6dan Ia berfirman: “Mereka ini satu
bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka;
mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak
akan dapat terlaksana. 7Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa
mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.” 8Demikianlah
mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti
mendirikan kota itu. 9Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut
Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari
situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Sama seperti kisah air bah, kisah pembangunan kota dengan menara pencakar
langit di Babel merupakan salah satu kisah familiar meski tidak mudah pula
untuk menangkap makna dan pesan utamanya. Kisah ini tampaknya disusun dalam dua
bagian. Pertama, menampilkan manusia yang bertindak dan berbicara (ay. 1-4).
Kedua, menampilkan Allah yang bertindak dan berbicara (ay. 5-9).
Manusia bertindak dan berbicara (ay. 1-4)
Bagian pertama kisah ini diawali dengan sebuah pernyataan - “Adapun seluruh
bumi, satu bahasanya dan satu logatnya” (ay. 1) - yang segera memunculkan soal.
Sebab, sebelumnya telah dikatakan bahwa daftar keturunan anak-anak Nuh memakai
bahasanya sendiri. Bangsa-bangsa keturunan Sem, Ham, dan Yafet memakai dan
mengembangkan bahasanya sendiri-sendiri. Setiap bangsa dan suku dari keturunan
Sem, Yafet, dan Ham tinggal di negerinya masing-masing dan mempunyai bahasanya
sendiri (Kej. 10:5, 20, 31).
Satu bahasa dan satu logatnya
Bagaimana kita menjelaskan pernyataan “seluruh bumi, satu bahasanya dan
satu logatnya?” Beberapa penafsir menjelaskannya dengan mengatakan bahwa daftar
bangsa-bangsa keturunan Sem, Ham, dan Yafet (Kej. 10) dan menara Babel (Kej.
11) seharusnya tukar tempat. Daftar bangsa-bangsa (Kej. 10) seharusnya
ditempatkan setelah kisah menara Babel (Kej. 11). Penjelasan ini memang lebih
logis bagi para pembaca modern. Namun, penempatan kedua kisah itu dilakukan
oleh para editor terakhir. Mereka tidak terganggu dengan apa yang dianggap
kurang logis dan teratur oleh pembaca modern sehingga tidak terlalu
mengherankan jika ada banyak contoh kisah yang penempatannya kurang diatur
secara logis dan bahkan bertentangan.
Beberapa penafsir lain berpendapat bahwa penempatan kisah menara Babel
setelah daftar bangsa-bangsa itu cocok dengan pola yang muncul secara berulang
dalam kisah sejarah purba (Kej. 1-11). Pola kebaikan Allah diikuti dengan
pemberontakan dari pihak manusia dan pemberontakan mendatangkan hukuman dari
pihak Allah. Pemberontakan yang mendatangkan hukuman itu diikuti lagi dengan
kebaikan Allah. Dengan menampilkan pola berulang - kebaikan diikuti dengan
pemberontakan dan pemberontakan diikuti dengan kebaikan - tercipta sebuah
ketegangan untuk mempersiapkan pembaca dengan kisah panggilan Abram (Kej.
12:1-9).
Beberapa penafsir lain lagi berpendapat bahwa pernyataan satu bahasa dan
satu logat itu mengacu pada bahasa pengantar atau bahasa pergaulan (Latin: lingua
franca) yang harus digunakan oleh semua orang dalam berkomunikasi di dunia
kuno. Jika artinya benar demikian, satu bahasa dan satu logat itu sangat
mungkin mengacu pada bahasa orang Babel karena posisinya pada waktu itu sebagai
penguasa dunia. Kesatuan bahasa dan logat ditekankan sebagai sindiran bagi
penguasa Babel yang mewajibkan dan memaksakan penggunaan bahasa Babel.
Motivasi mendirikan kota dengan menara sampai ke langit
Manusia merencanakan untuk membangun sebuah kota dengan menaranya sampai ke
langit. Kota dengan menara pencakar langit itu mau dibangun dengan batu bata
kering yang dilekatkan dengan ter. Konstruksi bangunan semacam ini biasa di
Mesopotamia kuno. Hal ini mengingatkan kita pada ziggurat, sebuah monumen yang
berbentuk piramida untuk pemujaan dan penyembahan dewa-dewi. Bagi Bergant,
gagasan membangun kuil untuk pemujaan dan penyembahan dewa Babel – Maduk atau
Bel - ada dibalik kisah pembangunan kota dengan menara pencakar langit dalam
kitab Kejadian.
Rencana pembangunan itu pada dirinya sendiri bukanlah sebuah pelanggaran
atau dosa. Namun, motivasi di balik rencana itu dapat dinilai sebagai suatu
pelanggaran atau dosa melawan petunjuk Allah sendiri. Apa motivasi pembangunan
kota dengan menaranya sampai ke langit ini? “Marilah kita dirikan bagi kita
sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah
kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (ay. 4). Dari
pernyataan ini terlihat dua motivasi. Pertama, “marilah kita cari nama.” Mereka
ingin mencari kemuliaan, kebesaran, dan keagungan bagi nama mereka sendiri.
Karya monumental tangan mereka sendiri dibangun bukan untuk memuliakan dan
mengabadikan nama Allah, melainkan mengabadikan nama mereka sendiri. Mereka
cenderung mengabadikan diri dalam bangunan. Jadi, ambisi dan kesombongan untuk
melampaui batas-batas yang ditetapkan oleh Allah bagi mereka menjadi motivasi
untuk membangun sebuah kota dengan menaranya sampai ke langit. Teknologi dapat
menjadi ekspresi kesombongan mereka yang tidak mau menerima keterbatasan
mereka.
Kedua, “kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Mereka tidak ingin memenuhi
seluruh bumi seperti yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka (Kej.
1:28; 9:1). Perintah Allah untuk memenuhi seluruh muka bumi tampaknya mereka
pandang sebagai ancaman karena mereka akan terpisah dan tidak ada lagi kesatuan
bahasa yang mengikat satu sama lain. Dengan Itulah sebabnya, mereka membangun
kota dengan menara pencakar langitnya untuk mempertahankan kesatuan bahasa dan
tempat tinggal mereka padahal keanekaragaman bahasa dan penyebaran umat manusia
ke seluruh muka bumi merupakan rencana asali Allah untuk memenuhi seluruh bumi.
Allah bertindak dan berbicara (ay. 5-9)
Allah bertindak dengan turun dari surga untuk melihat pembangunan sebuah
kota dengan menara pencakar langit yang telah direncanakan dan mulai
dilaksanakan oleh manusia. Setelah melihat karya monumental tangan anak-anak
manusia, Allah menanggapinya dengan pertama-tama berefleksi tentang situasi
hidup dan rencana anak-anak manusia. “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa
untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun
juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana” (ay.
6).
Refleksi atas situasi itu menjadi dasar dari keputusan Allah untuk campur
tangan. Tindakan campur tangan Allah tidak diperlihatkan-Nya dengan
membinasakan mereka yang merencanakan dan melaksanakan pembangunan kota dengan
menara pencakar langitnya itu, tetapi dengan membuat mereka terserak ke seluruh
muka bumi. Bahasa mereka dikacaukan-Nya dengan cara menyerakkan mereka ke
seluruh muka bumi. Dengan mengacaukan bahasa, mereka tidak mengerti lagi bahasa
masing-masing. Dengan menyerakkan mereka ke seluruh muka bumi, mereka tidak
lagi bisa menyelesaikan rencana pembangunan sebuah kota dengan menara pencakar
langit yang memperlihatkan ambisi dan kesombongan mereka.
Keputusan dan tindakan Allah untuk mengacaukan bahasa itulah yang menjadi
asal-usul dari nama kota Babel sampai sekarang. Dinamakan kota Babel karena di
situlah bahasa seluruh bumi dikacaubalaukan oleh Allah dan dari situlah mereka
diserakkan oleh Allah ke seluruh bumi. Nama kota Babel berasal dari kata kerja
Ibrani “balal” yang artinya “mengacaukan.” Allah mengacaukan (ay. 7, 9) bahasa
sehingga kemungkinan untuk berkomunikasi verbal di antara para pembangun tidak
terbangun dan terjalin kembali. Nama kota Babel menjadi saksi tindakan Allah
mengacaukan bahasa. Inilah yang disebut dengan sejarah etiologis sebab nama
sebuah tempat sering dijelaskan dengan sebuah peristiwa historis.
12
Visi positif dalam keputusan dan tindakan Allah
Keputusan dan tindakan Allah mengacaukan bahasa dan menyerakkan anak-anak
manusia ke seluruh muka bumi menawarkan sebuah visi positif. Sebab, keinginan
untuk mengontrol orang lain dengan cara menyeragamkan cara berbicara, berpikir
dan memahami dikacaukan dan diruntuhkan-Nya. Dominasi satu bahasa, satu cara
berbicara, dan satu pola dalam memahami sesama dikacaubalaukan-Nya ketika
mereka diserakkan ke seluruh muka bumi. Dengan diserakkan-Nya ke seluruh bumi,
mereka akan menjadi kaum migran atau pengungsi yang tidak lagi memahami bahasa
dan budaya setempat. Namun, mereka akan mendengar, mempelajari, dan berjumpa
dengan Allah secara baru ketika mereka terbuka untuk menerima keanekaragaman
bahasa dan budaya dalam beriman dan memuji Allah.
Kita dapat mengatakan bahwa keputusan dan tindakan Allah mengacaukan bahasa
dan menyerakkan anak-anak manusia bertujuan untuk menjelaskan pluralitas
bahasa. Inilah refleksi zaman dulu yang muncul dari rasa ingin tahu tentang pluralitas
bahasa. Bagaimana asal-usul keanekaragaman bahasa dan budaya yang tidak bisa
dipahami dengan mudah oleh satu sama lain? Keputusan dan tindakan Allah dalam
kisah menara Babel memberikan jawaban atau penjelasan terhadap fakta
keanekaragaman bahasa dan budaya yang tidak dapat dipahami oleh satu sama lain.
Akan tetapi, keputusan dan tindakan Allah ini pula dapat dilihat sebagai
hukuman Allah atas kesombongan dan keangkuhan manusia yang berupaya melanggar
tapal batas antara Allah dan manusia dan antara langit dan bumi dengan
membangun menara sampai ke langit. Kesombongan dan keangkuhan semacam inilah
menjadi salah satu akar masalah utama dalam sejarah hidup manusia.
Teknologi dan nilai-nilai injili dalam kisah menara Babel
Dari ulasan di atas, kita bisa menggarisbawahi beberapa nilai injili yang
ditawarkan oleh kisah menara Babel terkait dengan perkembangan dan kemajuan
teknologi dalam dunia dewasa ini. Pertama, melalui kisah menara Babel kita
diajarkan untuk tidak membangun dan menggunakan teknologi untuk mencari nama
bagi diri sendiri. Teknologi harus dibangun dan dipakai untuk memuji dan
memuliakan nama Allah, bukan untuk memuji dan memuliakan nama sendiri. Allah
dapat dipuji dan dimuliakan melalui teknologi informasi dan komunikasi hasil
karya tangan manusia ketika digunakan sebagai sarana pewartaan injil dan
penggembalaan umat dan bukan hanya untuk menampilkan dan menyebarkan foto dan
aktivitas diri apalagi untuk menyebarkan gosip, fitnah, dan kebencian.
Kedua, teknologi yang dibangun dan digunakan untuk memperlihatkan arogansi
manusia atau untuk menjadi sama seperti Allah akan dikacaubalaukan-Nya. Allah
akan turun tangan untuk mengacaukan sikap dan tindakan arogansi manusia yang
muncul dari pendewaan terhadap teknologi. Kita sebenarnya tidak berhak untuk
bersikap arogan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi sebab pencapaian itu
tidak melulu karena usaha kita sendiri, tetapi karena anugerah Allah. Dengan
memandangnya sebagai anugerah Allah, kita akan memuji dan memuliakan Allah
ketika menyaksikan kemampuan kita dalam mengembangkan dan memajukan teknologi.
Ketiga, teknologi informasi dan komunikasi semakin menyadarkan kita akan
keanekaragaman bahasa, budaya, dan domisili. Kesadaran ini diperlihatkan pula
dalam kisah menara Babel. Diperlihatkan bahwa akar dari keanekaragaman itu
lahir dari keputusan dan tindakan Allah sendiri. Allah mengacaukan dominasi
satu bahasa dengan logat yang sama dan menyerakkan anak-anak manusia ke seluruh
muka bumi sehingga muncullah keanekaragaman bahasa, budaya, dan domisili yang
telah menjadi bagian dari rencana Allah sejak awal. Maka, kita harus terbuka
untuk menerima dan menghargai keanekaragaman dan perbedaan dalam berpikir,
berbicara, dan bertindak, termasuk dalam hal beriman dan memuji Allah. 14
2. ARUS ZAMAN MATERIALISME DAN
NILAI-NILAI INJILI
Dunia kita kini berada dalam budaya materialisme dan konsumerisme. Sadar
atau tidak sadar, dasar identitas dan relasi kita dengan orang lain kini
dibentuk dan dibangun oleh materi yang kita miliki dan yang kita konsumsi.
Rumah yang kita diami, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita pakai,
perhiasan yang kita gunakan, kendaraan yang kita kemudi, musik yang kita
dengarkan, handphone yang kita pakai, dan sebagainya membentuk dasar identitas
diri dan relasi kita dengan orang lain. Kritik terhadap materialisme dan
konsumerisme biasanya berfokus pada bahaya penyembahan berhala - godaan untuk
menjadikan materi sebagai pusat kehidupan dan bukan Tuhan. Namun, sesungguhnya
ada ancaman yang lebih nyata dan serius. Pola kerja kita kini sangat ditentukan
oleh materi yang kita dapatkan karena dipahami sebagai sumber kesenangan dan
kenyamanan hidup. Pola konsumsi juga tidak lagi berorientasi untuk memenuhi
kebutuhan hidup, tetapi untuk mengikuti gaya hidup modern. Dalam konteks inilah
kita perlu menawarkan nilai-nilai injili. Tentu saja ada banyak nilai-nilai
injili yang dapat ditawarkan. Akan tetapi, kita di sini hanya menawarkannya
dari perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13-21).
ORANG KAYA YANG BODOH (Luk. 12:13-21)
13Seorang dari orang banyak
itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi
warisan dengan aku.” 14Tetapi Yesus berkata kepadanya:
“Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas
kamu?” 15Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjagajagalah dan
waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah
hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”16Kemudian
Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya,
tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 17Ia bertanya dalam
hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di
mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.18Lalu katanya: Inilah yang
akan aku perbuat; aku akan merombak lumbunglumbungku dan aku akan mendirikan
yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan
barang-barangku. 19Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku:
Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya;
beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 20Tetapi
firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan
diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21Demikianlah
jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia
tidak kaya di hadapan Allah.
“Orang kaya yang bodoh” merupakan perumpamaan pertama dari tiga perumpamaan
yang berbicara mengenai kekayaan dalam injil Lukas (Luk. 12:13-21; 16:1-13;
16:19-31). Perumpamaan pertama ini dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama,
permintaan kepada Yesus untuk menjadi hakim dan tanggapan-Nya yang berpuncak
pada peringatan untuk bersikap waspada terhadap segala ketamakan (ay. 13-15).
Kedua, perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh berfungsi untuk menjelaskan
ketamakan dan mengapa disebut bodoh (ay. 16-21).
Permintaan untuk menjadi hakim dan tanggapan Yesus (ay. 13-15)
Salah seorang dari antara orang banyak menyapa Yesus sebagai Guru atau
Rabbi (bdk. Luk. 7:40). Dengan menyapa sebagai guru atau rabi, dia meminta
Yesus bertindak sebagai hakim dalam perkara pembagian harta warisan dengan
saudaranya. Pembagian harta warisan sebenarnya telah diatur dalam hukum Taurat.
Diatur bahwa anak laki-laki sulung berhak mendapatkan dua bagian dari harta
warisan ayahnya (Ul. 21:16-17) karena dialah yang empunya hak kesulungan. Anak
laki-laki sulung juga menerima berkat khusus dari ayahnya, menggantikan ayahnya
sebagai kepala rumah tangga, memegang otoritas atas anggota-anggota rumah
tangga lainnya.
Apa tanggapan Yesus atas permintaan untuk menjadi hakim dalam perkara
pembagian harta warisan di antara dua saudara? Dia menolak peran sebagai hakim
dalam perkara warisan di antara dua saudara. “Saudara, siapakah yang telah
mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” (ay. 14). Di balik
penolakan untuk menjadi hakim dalam perkara harta warisan tersirat peran Yesus
yang lebih urgen, yakni mewartakan kerajaan Allah, bukan mengurusi
perkara-perkara kecil yang dapat dengan mudah ditangani oleh seorang rabi. Di
sini Yesus tentu saja tidak menolak peran-Nya sebagai hakim atas orang yang
hidup dan yang mati (2Tim. 4:1).
16
Bagi penafsir lain, penolakan untuk berperan sebagai hakim dalam perkara
pembagian harta warisan itu justru karena Yesus mempersoalkan motivasi di balik
permintaan tersebut. Motivasinya bukan untuk mendapatkan keadilan dalam
pembagian harta warisan, melainkan untuk mendapatkan kekayaan bagi diri
sendiri. Orang itu berani memerintah dan mengatakan kepada Yesus apa yang harus
dilakukan-Nya untuk memenuhi keinginannya mendapatkan kekayaan bagi dirinya
sendiri. Itulah sebabnya, Yesus memberi peringatan kepada muridmurid-Nya untuk
berjaga-jaga dan waspada terhadap segala bentuk ketamakan. Ketamakan
(Yun.pleonexia) dipahami sebagai hasrat atau nafsu yang sangat kuat dan
tak terkendali untuk memiliki harta secara berlebihan tanpa memperhatikan
situasi hidup orang lain.
Peringatan untuk melawan segala bentuk ketamakan itu disusul dengan
memberikan sebuah alasan yang masuk akal. Bagi Yesus, hidup kita tidak
tergantung pada harta kekayaan betapa pun melimpahnya. “Sebab walaupun seorang
berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu”
(ay. 15b; bdk. Luk. 4:4). Hidup kita bergantung pada Allah. Kata-kata Yesus ini
sungguh-sungguh radikal dan kontras dengan cara hidup, berpikir, dan menilai
dalam hidup kita yang sering mengukur kesuksesan hidup dari harta kekayaan yang
melimpah.
Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (ay. 16-21)
Yesus menekankan kembali apa yang diperingatkan dan diajarkan-Nya melalui
sebuah perumpamaan. Ditampilkan bahwa ada seorang yang kaya karena hasil
tanahnya berlimpah. Orang kaya ini kiranya mengacu pada tuan tanah di Palestina
pada abad pertama. Hasil panen melimpah sehingga dia merombak lumbungnya dan
membangun kembali yang jauh lebih besar untuk bisa menampung hasil panennya dan
menjamin masa depannya selama bertahun-tahun.
Setelah hasil panen yang melimpah disimpannya di lumbung-lumbung yang jauh
lebih besar, orang kaya itu berkata kepada dirinya sendiri: “Beristirahatlah,
makanlah, dan bersenang-senanglah” (ay. 19). Dalam kata-kata ini tidak sedikit
pun ruang baginya untuk bersyukur kepada Allah dan berbagi dengan orang lain.
Ia juga tidak menyadari dirinya sebagai makhluk ciptaan karena berpikir dan
bertindak seolah-olah tuan yang mengontrol jalan hidupnya sendiri.
Itulah sebabnya, orang kaya itu disebut oleh Yesus sebagai orang bodoh.
“Hai engkau orang bodoh” (ay. 20a). Kata bodoh (Yun. aphrōn) di sini
dan yang juga muncul sebelumnya (Luk. 11:40) mengacu pada orang-orang yang
tidak bijaksana (bdk. Mat. 25:1-13) dan yang tidak menyadari bahwa hidupnya
tidak tergantung pada harta kekayaannya yang melimpah. Kebodohan orang kaya itu
tidak hanya terletak pada ketamakannya, tetapi juga pada perhatiannya yang
hanya berorientasi pada dirinya sendiri. Kebodohannya bisa juga terletak pada
kegagalannya untuk mengakui bahwa hidupnya hanyalah sementara (bdk. Mzm 39:5-8;
90:12); pada kegagalannya untuk mempersiapkan hidupnya setelah kematian; pada kegagalannya
untuk bersandar pada Allah (bdk. Yak. 4:13-5:6).
Orang kaya yang bodoh itu tidak menyadari bahwa hasil panennya yang
melimpah sebagai suatu kesempatan untuk membantu orangorang yang membutuhkan
makanan (bdk. Luk. 16:19-25). Dia egois ketika menimbun dan bersenang-senang
sendiri dengan hartanya tanpa merisaukan kebutuhan hidup sesamanya dan hidupnya
sendiri di dunia akhirat. Dia berpikir bahwa penimbunan harta kekayaan itu
cukup untuk membawa keamanan dan kebahagiaannya bagi jiwanya. Dia merasa
jiwanya aman dan bahagia dengan hartanya yang melimpah. Dia meyakini harta
kekayaannya yang melimpah akan mengatasi berbagai kesulitan hidupnya di
akhirat. Hidupnya bergantung pada kekayaan yang melimpah, bukan kepada Allah.
Bagi orang kaya yang bodoh itulah Yesus memperlihatkan firman Allah yang
menunjukkan campur tangan-Nya secara tidak terduga. “Pada malam ini juga jiwamu
akan diambil dari padamu”(ay. 20b). Melalui firman Allah orang kaya itu
diperingatkan bahwa hidupnya tidak berada di tangannya sendiri, tetapi di
tangan Allah; bahwa ia tidak tahu masa depannya sendiri; bahwa ia bukanlah tuan
atas hidupnya sendiri; bahwa hidupnya bisa diambil kapan saja pada saat yang
tidak terduga; bahwa kekayaannya tidak menjamin kebahagiaannya setelah ia
meninggal; bahwa setelah kematian, ia akan diadili dan dihakimi; bahwa jika
hidupnya hanya berorientasi pada kekayaan dan kesenangannya sendiri, ia akan
menyesal dalam terang pengadilan dan penghakiman Allah di akhir zaman.
Penimbunan harta kekayaan bagi kesenangan diri sendiri itu sia-sia. Hal ini
ditekankan oleh Yesus dalam sebuah pertanyaan, “apa yang telah kausediakan,
untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan
harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (ay.
20c-21). Walau bisa menikmati kesenangan dengan harta kekayaannya ketika masih
hidup, namun orang pasti tidak dapat menikmatinya lagi setelah kematiannya.
Karena setelah mati akan ada pengadilan dan penghakiman terakhir, orang akan
menyadari bahwa penumpukan harta kekayaan bagi diri sendiri dengan tidak mempedulikan
Allah dan sesama itu tidak dibenarkan di hadapan Allah. Jika seorang menumpuk
kekayaan bagi kesenangannya sendiri dan tidak mempedulikan sesama dan
lingkungan, ia tidak kaya di hadapan Allah.
Nilai-nilai injili berhadapan dengan budaya materialisme dan konsumerisme
Dari perumpamaan orang yang kaya bodoh, ada beberapa nilai injili yang
dapat kita tawarkan berhadapan dengan budaya zaman materialisme dan
konsumerisme. Pertama, kita tidak boleh berpikir dan bertindak seperti orang
kaya yang bodoh yang menimbun kekayaannya bagi kesenangan sendiri dan jaminan
bagi keamanan dan kebahagiaan jiwanya sendiri tanpa sedikit pun memikirkan
Allah, sesama, pengadilan, dan penghakiman di akhir zaman.
Kedua, hidup kita sama sekali tidak bisa dijamin oleh harta kekayaan.
Kelimpahan harta kekayaan tidak menjamin keamanan, kebahagiaan, dan kepuasan
hidup. Penumpukan kekayaan bagi kesenangan sendiri tidak memberi jaminan
keamanan dan kebahagiaan apa pun. Sebab, jaminan keamanan dan kebahagiaan itu
ada pada Allah. Hidup bersama Allah dan melakukan hal-hal baik bagi sesama dan
lingkungan itulah yang sesungguhnya memberi jaminan keamanan, kedamaian, dan
kebahagiaan hidup kita.
Ketiga, harta kekayaan itu anugerah Allah yang tidak boleh ditimbun hanya
untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk sesama. Kita diminta untuk
berhenti menumpuk kekayaan hanya demi kesenangan hidup sendiri tanpa
mempedulikan sesama dan lingkungan. Sebaliknya, kita diminta untuk terus
mengumpulkan harta di hadapan Allah dengan menghindarkan diri dari ketamakan,
keserakahan, dan keegoisan. Kita diminta untuk terus menerus mencari harta
sejati yang tidak dapat binasa dengan mempercayakan hidup kita kepada Allah dan
berbagi dengan orang miskin. Kita diminta untuk terus menerus mengubah dan
menata kembali hidup kita sebelum terlambat.
Keempat, kita diminta menimbun harta di surga. Harta itu tidak dapat
diambil orang, tidak dapat diambil oleh pencuri, dan tidak dapat dirusak oleh
ngengat sehingga tidak akan pernah hilang. Hal ini berbeda dengan harta
kekayaan yang disimpan di dunia karena dapat saja dicuri, dapat dirusak oleh
ngengat sehingga kita cemas dan kuatir sebab di mana harta kita berada, di situ
juga hati kita berada. Hati di sini berkaitan dengan perasaan, pikiran,
perhatian, dan minat seseorang. Jika harta surgawi yang kita cari dan timbun,
perasaan, pikiran, perhatian, dan minat kita diarahkan kepada Tuhan dan
kehendak-Nya. Sebaliknya, jika hanya harta duniawi yang dicari dan ditimbun,
perasaan, pikiran, perhatian, dan minat kita terikat dan melekat padanya
sehingga tidak lagi diarahkan kepada Tuhan dan kehendak-Nya.
Kelima, gaya hidup materialistis dan konsumeristis biasanya didorong oleh
salah sangka bahwa nilai hidup kita tergantung pada apa yang kita miliki dan
apa yang dikonsumsi. Nilai hidup kita tidak tergantung sama sekali dengan rumah
yang kita diami, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita pakai, perhiasan
yang kita pakai, kendaraan yang kita kemudi, musik yang kita dengarkan,
handphone yang kita gunakan, dan lain sebagainya. Nilai hidup kita tidak
tergantung pada kekayaan betapa pun melimpahnya. Jaminan keamanan dan
kebahagiaan hidup kita bergantung pada Allah. Harta kekayaan tidak membawa
keamanan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi hidup di akhirat.
20
3. ARUS ZAMAN INDIVIDUALISME DAN NILAI-NILAI INJILI
Kita kini berada dalam arus zaman individualism, yang menganggap diri
sendiri lebih penting daripada orang lain. Sebab, perhatian kita difokuskan
hanya pada diri sendiri. Kita menjalani hidup semata-mata untuk diri
sendiri. Kita hanya berpikir apa yang terbaik bagi diri sendiri dan tidak
peduli akan orang lain. Kita juga tidak lagi peduli akan apa yang terjadi di
lingkungan sekitar kita. Kita bahkan tidak lagi merasa perlu mengenal dan
bergaul dengan tetangga.
Nilai-nilai injili apa yang dapat ditawarkan untuk menghadapi gaya hidup
masyarakat modern yang semakin mementingkan diri sendiri atau semakin egois
itu? Cara dan gaya hidup jemaat perdana dapat ditawarkan untuk menghadapinya.
Cara dan gaya hidup mereka dilukiskan sebanyak tiga kali dalam Kisah Para Rasul,
yakni Kis. 2:42-47; 4:32-35; 5:11-16. Ketiganya menampilkan contoh atau teladan
bagi kita sekalian pada masa sekarang ini.
Dari tiga perikop yang melukiskan cara dan gaya hidup jemaat perdana, fokus
perhatian kita hanya diarahkan pada yang pertama (Kis. 2:42-47). Sebab, cara
dan gaya hidup dalam gambaran pertama menekankan persekutuan dan kebersamaan di
antara anggota jemaat. Persekutuan dan kebersamaan itu tampaknya cocok diangkat
untuk menghadapi gaya hidup masyarakat modern yang semakin individualis.
CARA HIDUP JEMAAT PERDANA (Kis. 2:42-47)
42Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa. 43Lalu ketakutan melanda semua
orang, sebab rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda ajaib. 44Semua
orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, 45dan
selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya
kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46Dengan
bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka
memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama
dengan gembira dan tulus hati, 47sambil memuji Allah dan mereka
disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang
yang diselamatkan.
Kis. 2:42-47 dapat diikuti dengan alur kisah sebagai berikut. Karakter
kehidupan jemaat perdana dilukiskan (ay. 42) dan disusul dengan dampaknya bagi
orang luar (ay. 43). Karakter kehidupan jemaat perdana lagi-lagi ditampilkan
(ay. 44-47a) dan disusul dengan dampaknya bagi orang luar (ay. 47b-c).
Bertekun dalam pengajaran para rasul dan persekutuan (ay. 42)
Lukas menampilkan dua karakter kehidupan jemaat perdana. Pertama, mereka
bertekun dalam pengajaran para rasul (ay. 42). Bertekun dalam pengajaran
berarti mendengarkan dengan tekun dan melaksanakan dengan giat apa yang
diajarkan para rasul. Pengajaran di sini lebih dari pewartaan seputar kematian,
kebangkitan, dan maknanya bagi kehidupan kristiani. Pengajaran mereka mencakup
pula penafsiran kitab suci, segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus
selama hidup di dunia, dan pewahyuan yang diberikan-Nya kepada para rasul dari
surga. Pengajaran mereka disertai dengan banyak tanda dan mukjizat yang
menegaskan kebenaran pengajaran mereka sama seperti pengajaran Yesus sendiri
(Kis. 2:22).
Kedua, mereka bertekun dalam persekutuan atau kebersamaan (Yun. koinonia) dengan
satu sama lain. Persekutuan atau kebersamaan di antara anggota jemaat
diungkapkan secara khusus dalam aktivitas memecahkan roti. Mereka selalu
berkumpul untuk memecahkan roti yang dikaitkan dengan perayaan Ekaristi (1Kor.
10:16; 11:24; Luk. 22: 19) dan makan bersama dalam perjamuan sehari-hari (bdk.
Luk. 24:30, 35; Kis. 20:11; 27:35). Melalui persekutuan dan kebersamaan dalam
kegiatan memecahkan roti, mereka mengenang perjamuan suka cita bersama Yesus
sebelum dan sesudah Paskah.
Persekutuan atau kebersamaan di antara anggota jemaat itu diungkapkan pula
dalam kegiatan doa bersama. Mereka selalu berkumpul untuk berdoa bersama.
Dengan sehati, mereka semua bertekun dalam doa bersama (Kis. 1:14; 2:42; 46;
6:4; 11:5; 12:12). Mereka berdoa tampaknya bersama dengan orang Yahudi lainnya
di Bait Allah. Fungsi dan peran bait Allah sebagai rumah doa memang ditekankan
oleh penginjil Lukas (bdk. Luk. 1:8-23; 2:27-32; 36-38; 18:10-14; 19;46;
24:53). Fungsi dan peran ini diperlihatkan juga dalam Kisah Para Rasul (bdk.
Kis. 2:47; 3:1; 21:20-26; 22:17-21). Namun, tidak ada alasan untuk membatasi
tempat mereka berdoa hanya di Bait Allah, sebab rumah juga disebut pusat
kegiatan mereka (Kis. 4:24-30).
Takut terhadap banyaknya mukjizat dan tanda ajaib (ay. 43)
Orang-orang di luar jemaat perdana ketakutan ketika menyaksikan para rasul
mengadakan banyak mukjizat dan tanda ajaib. Apa persisnya mukjizat dan tanda
ajaib yang dilakukan oleh para rasul tidak disebutkan di sini. Mukjizat dan
tanda ajaib itu baru disebutkan ketika menceritakan mukjizat dan tanda ajaib
yang dilakukan oleh rasul Petrus (Kis. 3:1-11; 5:1-11; 9:32-42).
Kata “takut” (Yun. phobos) biasanya digunakan oleh Lukas untuk
mengungkapkan reaksi manusia terhadap campur tangan Allah yang melampaui daya
tangkapnya (Luk. 1:12, 65; 2:9; 8:37; 21:26; Kis. 5:5, 11; 9:31). Kata ini juga
kadang digunakannya untuk mengungkapkan perasaan kagum atas kehadiran dan kuasa
Allah (Luk. 5:26; 7:16; Kis. 19:17). Jadi, reaksi “takut” dipahami dalam arti
kekaguman atau keterpesonaan atas kehadiran dan tindakan Allah yang penuh kuasa
dalam karya mukjizat dan tanda ajaib yang dilakukan oleh para murid.
23
Karya mukjizat dan tanda ajaib yang dilakukan oleh Yesus berlangsung terus
melalui para rasul dan para murid-Nya walau Ia telah diangkat ke surga. Bukan
hanya Yesus melakukan karya mukjizat dan tanda ajaib (Kis. 2:22 dan 10:38),
melainkan juga para rasul-Nya dan para murid-Nya. Banyak mukjizat dan tanda
ajaib yang dilakukan oleh para rasul dan para murid Yesus, baik di Yerusalem
(Kis. 2:43; 3:1-10; 5:12-16), maupun di tempat lain (Kis. 8:6-7; 19:11-12;
28:8-9) setelah wafat dan kebangkitan-Nya.
Kesatuan dan kerelaan untuk berbagi (ay. 44-47a)
Karakter lain dari cara dan gaya hidup jemaat perdana adalah hidup dalam
semangat kesatuan. Kesatuan di antara mereka diungkapkan secara konkrit dalam
semangat saling berbagi secara suka rela. “Semua milik mereka adalah milik
bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu
membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing”
(ay. 44-45).
Beberapa anggota jemaat yang kaya menjual harta milik mereka secara suka
rela dan membagi-bagikannya kepada orang miskin sesuai dengan keperluan
masing-masing seperti yang dilakukan oleh Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut
Barnabas (Kis. 4:36-37). Jemaat di Antiokhia Siria juga mengumpulkan sumbangan
sesuai dengan kemampuan mereka masingmasing untuk membantu orang-orang miskin
yang tinggal di Yudea (Kis. 11:27-30).
Semangat berbagi itu tidak hanya mengungkapkan kesadaran mereka akan fungsi
sosial dari harta milik, tetapi juga memperlihatkan dimensi sosial dalam
persekutuan atau kebersamaan. Sebab, tidak ada persekutuan atau kebersamaan
tanpa adanya kerelaan dan semangat untuk berbagi. Semangat berbagi itu
dipandang pula sebagai mandat dan simbol dari iman. Kita harus berbagi dengan
sesama karena kita telah diberikan secara oleh cuma-cuma oleh Allah. Berbagi
dengan sesama merupakan suatu bentuk ucapan syukur kita kepada Allah atas apa
yang telah kita terima (bdk. 2Kor. 9:12).
Kesatuan di antara anggota jemaat diungkapkan itu juga dalam semangat
berkumpul bersama tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka mengambil bagian
dalam doa, kurban, dan perayaan religius-kultis Yahudi. Mereka mungkin juga
berkumpul di bait Allah untuk mewartakan injil tentang Yesus Kristus (bdk.
3:11; 5:12).
Tidak hanya berkumpul bersama di Bait Allah, mereka juga berkumpul di
rumah-rumah anggota jemaat secara bergiliran untuk merayakan Ekaristi dan makan
bersama dengan gembira serta tulus hati. Sebelum gedung gereja dibangun, mereka
merayakan Ekaristi di rumah-rumah anggota jemaat yang disertai dengan makan
bersama. Hal inilah yang membedakan mereka dari orang-orang Yahudi bukan
kristiani.
Disukai semua orang (ay. 47bc)
Semangat kesatuan dan saling berbagi di antara anggota jemaat menyebabkan
mereka disukai oleh semua orang. Cara dan gaya hidup mereka memberi kontribusi
bagi penambahan jumlah anggota jemaat. Kesaksian melalui cara dan gaya hidup
memiliki kekuatan pewartaan yang lebih besar dibandingkan dengan hanya
berkata-kata. Walau kesaksian melalui cara dan gaya hidup diakui memiliki daya
pewartaan, namun penambahan jumlah anggota dilihat juga oleh Lukas sebagai
hasil karya Allah. “Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang
yang diselamatkan” (ay. 4).
Nilai-nilai injili dan individualisme
Dari beberapa ciri dari cara dan gaya hidup jemaat perdana di atas, kita
bisa menarik beberapa nilai injili yang bisa ditawarkan untuk menghadapi dan
menentang cara dan gaya hidup modern yang semakin individualistis ini. Pertama,
cara dan gaya hidup individualistis tidak pernah dikembangkan oleh para penulis
Kitab Suci. Sebab, mereka lebih suka berfokus pada individu-individu sebagai
bagian dari sebuah komunitas. Mereka juga lebih menekankan relasi antara
individu dan komunitas dalam persekutuan atau kebersamaan dengan tubuh Kristus
atau Gereja secara keseluruhan.
Kedua, cara dan gaya hidup jemaat perdana memberikan contoh hidup dalam
persekutuan dan kebersamaan yang erat antara satu dengan yang lain. Persekutuan
dan kebersamaan itu diungkapkan dalam kegiatan berkumpul bersama untuk
merayakan Ekaristi, berdoa bersama, makan bersama, dan berbagi dengan orang
yang berkekurangan. Melalui contoh cara dan gaya hidup jemaat perdana, kita
diajarkan untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja dan bermasyarakat dengan
rela berbagi waktu dan harta milik dengan sesama.
Ketiga, cara dan gaya hidup jemaat perdana harus dihidupkan kembali oleh
gereja masa kini. Sebab, kesaksian hidup mereka memiliki daya kekuatan
pewartaan yang luar biasa dibandingkan dengan kesaksian hanya melalui
kata-kata. Dengan kesaksian hidup inilah Gereja masih memiliki daya pikat bagi
banyak orang sehingga mereka mau bergabung. Maka, marilah kita mengikuti contoh
cara dan gaya hidup jemaat perdana dengan tekun supaya Tuhan menambahkan jumlah
anggota jemaat baru.
25
4. ARUS ZAMAN HEDONISME DAN
NILAI-NILAI INJILI
Kata hedonisme berasal dari akar kata Yunani kuno hēdonē yang
secara umum berarti kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu. Di sini
kata hedonisme dipakai untuk menunjuk pada pandangan dan gaya hidup yang
menempatkan kesenangan dan kenikmatan hidup sebagai prioritas tertinggi dalam
hidup. Kesenangan dan kenikmatan itu dianggap sebagai kebaikan tertinggi
sehingga dijadikan sebagai tujuan utama dalam hidup. Bagi kaum hedonis, tidak
ada sesuatu yang lebih pantas dilakukan dan diperjuangkan, selain kesenangan
dan kenikmatan hidup bagi diri mereka sendiri. Mereka menjadikan kesenangan dan
kenikmatan hidup sebagai tolok ukur untuk menilai apa yang baik dan yang buruk.
Kesenangan dan kenikmatan hidup itu memang pada dirinya sendiri baik sebab
termasuk bagian dari ciptaan yang TUHAN sendiri nilai baik (Kej. 1:31).
Pemahaman positif semacam ini juga dicatat oleh Pengkhotbah. “Tak ada yang
lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam
jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah” (Pkh. 2:24).
Namun, tidak semua yang nikmat atau menyenangkan itu baik secara moral dan
sesuai dengan kehendak Allah. Pandangan dan gaya hidup yang menempatkan
kesenangan dan kenikmatan sebagai prioritas hidup dipandang tidak baik secara
moral dan juga tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Itulah sebabnya, kita perlu menggali dan menawarkan nilai-nilai injili
untuk menghadapi dan menentang pandangan dan gaya hidup kau hedonis. Ada banyak
perikop dalam Alkitab yang dapat digali dan ditawarkan. Namun, kami di sini
hanya menawarkan nasihat Yakobus tentang hikmat dan hawa nafsu (Yak. 3:14-4:3).
HIKMAT DAN HAWA NAFSU (Yak. 3:14-4:3)
14Jika kamu menaruh perasaan
iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan
janganlah berdusta melawan kebenaran! 15Itu bukanlah hikmat
yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. 16Sebab
di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan
segala macam perbuatan jahat.17Tetapi hikmat yang dari atas adalah
pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas
kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.18Dan
buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang
mengadakan damai. 1Dari mana datangnya sengketa dan
pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling
berjuang di dalam tubuhmu? 2Kamu mengingini sesuatu, tetapi
tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak
mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak
memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. 3Atau kamu berdoa
juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang
kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Perikop yang berbicara tentang hikmat dan hawa nafsu (Yak. 3:14-4:3)
terdiri dari dua bagian. Pertama, Yakobus berbicara tentang dua jenis hikmat
dengan ciri-ciri dan dampaknya masing-masing (ay. 14-18). Kedua, celaan bagi
sikap dan tindakan digerakkan oleh kesenangan, kenikmatan, dan hawa nafsu yang
melahirkan sengketa, pertengkaran, dan pembunuhan (ay. 1-3).
Hikmat dari bawah dan hikmat dari atas (ay. 14-18)
Yakobus menampilkan dua jenis hikmat untuk mengilustrasikan dua bentuk gaya
hidup. Pertama, hikmat yang datang dari bawah, dari dunia, dari nafsu manusia,
dari setan-setan. Ciri-cirinya adalah iri hati, mementingkan diri sendiri,
memegahkan diri, dan berdusta. Dampak yang dihasilkannya adalah kekacauan dan
segala macam perbuatan jahat. Ciri dan dampaknya ini mirip dengan apa yang
digambarkan oleh Paulus sebagai perbuatan daging (Gal. 5:19-21).
Kedua, hikmat yang datangnya dari atas, dari surga, dari Allah yang murah
hati. Ciri-cirinya adalah murni, suka damai, lembut, penurut, penuh belas
kasihan, tidak memihak, dan tidak munafik. Dampak yang dihasilkannya adalah
orang bertindak secara bijak, sesuai dengan kehendak Allah, dan berelasi baik
dengan Allah dan sesama sehingga orang hidup dalam damai. Ciri dan dampaknya
ini mirip dengan apa yang dilukiskan oleh Paulus sebagai perbuatan Roh atau
buah-buah Roh (Gal. 5:22-23). Itulah sebabnya, ada penafsir yang berpendapat
bahwa dua jenis hikmat yang dilukiskan dalam surat Yakobus mirip dengan lukisan
tentang perbuatan daging dan perbuatan Roh dalam surat Paulus.
27
Gagasan tentang hikmat yang datang dari atas tampaknya diwariskan oleh
Yakobus dari tradisi hikmat Yahudi. Dalam tradisi hikmat Yahudi, Allah diakui
sebagai satu-satunya sumber hikmat. Hikmat yang dimiliki manusia diperoleh dari
karunia-Nya (Am. 2:6; 8:21-31; Sir. 1:1-4; 24:1-12; Keb. 7:24-27; 9:4, 6).
Karena diperoleh dari karunia Allah, manusia tidak dapat memperoleh hikmat,
kebajikan, dan kearifan melalui usahanya sendiri. Manusia tidak akan dapat
memperolehnya jika tidak dianugerahkan oleh Allah. Satu-satunya cara untuk
memperolehnya adalah memohonkannya kepada Allah dalam doa. Salomo telah
memberikan contohnya kepada kita ketika berdoa kepada Allah untuk memohon
pengertian agar bisa memutuskan perkara secara adil dan benar (1Raj. 3:5-15).
Tema hikmat diakhiri oleh Yakobus dengan berbicara tentang kebenaran. “Dan
buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang
mengadakan damai” (ay. 18). Di sini kebenaran dipandang sebagai ganjaran bagi
orang yang membawa damai. Pada saat yang sama, orang yang membawa damai
mendapatkan ganjaran kebenaran. Namun, orang hanya bisa membawa damai, jika
sikap dan tindakannya tidak digerakkan oleh hikmat yang berasal dari bawah,
dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setan, tetapi oleh hikmat yang
datangnya dari atas, dari surga, dari Allah.
Hidup tidak boleh digerakkan oleh hēdonē (ay. 1-3)
Yakobus di sini berbicara tentang munculnya sengketa dan pertengkaran.
Pembicaraan ini sangat mungkin terkait erat dengan situasi jemaatnya yang
bersengketa dan bertengkar satu sama lain. Bagi Yakobus, sengketa dan
pertengkaran itu tidak disebabkan oleh kekuatan dari luar, tetapi dari dalam
diri mereka sendiri karena banyak di antara mereka yang hidupnya digerakkan
oleh hēdonē. Kata Yunani hēdonēdi sini secara umum dipahami dalam arti
kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu. Kata ini digunakan sebanyak
5 kali dalam Perjanjian Baru dan semuanya berbicara tentang keinginan yang
jahat (Luk. 8:14; Tit. 3:3; Yak. 4:3; 2Ptr 2:13).
Sikap dan tindakan yang digerakkan oleh kesenangan diri, kenikmatan hidup,
dan hawa nafsu melahirkan dua bentuk konflik yang saling terkait. Pertama,
konflik internal yang datangnya dari hawa nafsu yang saling berjuang di dalam
diri kita sendiri (ay. 1). Kedua, konflik eksternal dengan sesama. Konflik
internal melahirkan konflik eksternal, yakni sengketa, pertengkaran, dan
pembunuhan. Jadi, ada suatu konsekuensi serius yang ditimbulkan, jika sikap dan
tindakan kita digerakkan oleh keinginan untuk mendapatkan kesenangan diri,
kenikmatan hidup, dan memuaskan hawa nafsu.
Yakobus lalu menampilkan alasan mengapa kita tidak dapat memperoleh apa
yang kita inginkan. Baginya, kita tidak memperoleh apa yang diinginkan karena
kita tidak berdoa (ay. 2). Di sini kata-kata Yesus tentang doa tampaknya
dikenalnya. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan
mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang
meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang
mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Mat. 7:7-8//Luk. 11:9-10//Yoh. 16:24).
Kita juga tidak memperoleh apa yang kita inginkan karena salah berdoa.
Kalau pun kita memintanya dalam doa, kita salah berdoa, sebab apa yang kita
minta dimaksudkan untuk memenuhi kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa
nafsu sendiri. Itulah sebabnya, ada penafsir yang berkomentar bahwa janji
dikabulkannya doa permohonan itu ada syaratnya, bukan tanpa syarat. Jika syarat
yang diberikan-Nya tidak dipenuhi, janji tidak berlaku. Meski Allah mendorong
kita untuk berdoa dan berjanji untuk mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kita,
namun ada syarat yang diberikan-Nya, yakni motivasi doa permohonan kita harus
sesuai dengan kehendak-Nya.
Persoalan tidak terkabulnya apa yang diinginkan itu tidak selalu sederhana
seperti yang dibayangkan. Apa yang diinginkan tidak selalu didapatkan sekalipun
telah diminta secara berulang kali dalam doa. Bagi Yakobus, apa yang kita minta
itu tidak selalu dikabulkan karena kita salah meminta. Kita memintanya untuk
memuaskan hēdonē, kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu.
Motivasi doa semacam ini dapat dikatakan menghujat Allah karena Allah hanya
dijadikan sebagai penyedia jasa kesenangan diri, kenikmatan hidup, hawa nafsu
egois, dan bukan sebagai yang berkuasa. Allah hanya menjawab doa-doa kita yang
sesuai dengan kehendak-Nya (bdk. Yak. 1:6b-8).
Maka, kita diminta oleh Yakobus untuk memohon hikmat dari Allah supaya kita
bijak dan arif dalam meminta kepada-Nya. “Tetapi apabila di antara kamu ada
yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah” (1:5). Kita juga
diperintahkannya untuk “memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang,
sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan
kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan
menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang
dalam hidupnya” (Yak. 1:6-8).
29
Nilai-nilai injili dan Hedonisme
Dari uraian di atas kiranya kita dapat menawarkan beberapa nilai injili
berhadapan dengan pandangan dan gaya hidup kaum hedonis. Pertama, Yakobus
menampilkan dua bentuk hikmat, yakni hikmat yang datang dari dunia dan yang
datang dari atas. Hikmat yang datang dari dunia mendatangkan kekacauan dan
segala macam perbuatan jahat karena bersumber dari iblis, sementara hikmat yang
datang dari atas mendatangkan damai karena bersumber dari Allah. Maka, kita
diminta untuk memohon hikmat yang berasal dari atas untuk bisa secara arif
menikmati anugerah materi yang diberikan oleh Allah.
Kedua, Yakobus memandang sikap dan tindakan yang digerakkan oleh hēdonē-
kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu – sebagai akar dari segala
bentuk sengketa, pertengkaran, dan pembunuhan. Jika sikap dan tindakan kita
digerakkan oleh semangat hidup kaum hedonis, kita tidak akan pernah memperoleh
ketenangan dan kedamaian dalam hidup. Hubungan baik dengan Allah, sesama, dan
lingkungan menjadi rusak.
Ketiga, kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu untuk mendapatkan
kekayaan dan kekuasaan menjadi ancaman serius bagi kehidupan. Ketika tiap-tiap
orang berjuang untuk mendapatkannya, kehidupan menjadi ajang persaingan. Segala
macam cara dilakukan untuk memenangkannya, termasuk menghabisi lawan-lawannya.
Maka, hidup kita tidak boleh digerakkan oleh pandangan dan gaya hidup kaum
hedonis, yang mementingkan kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu
mereka sendiri tanpa memperhitungkan dan memperhatikan orang lain.
Keempat, kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita peroleh sekarang.
Kita harus mensyukuri apa yang kita peroleh karena diyakini sebagai anugerah
Allah. Jika kita bersyukur, kita akan semakin memperoleh kesenangan,
kebahagiaan, dan kedamaian dalam hidup. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur,
kita akan terus mengejar kesenangan diri, kenikmatan hidup, dan hawa nafsu
sendiri tanpa henti. Jika kita terus mengejarnya, hidup kita semakin tidak bisa
dinikmati karena kepuasan duniawi tidak ada batasnya sehingga kita tidak akan
memperoleh kedamaian dalam hidup.30
Daftar Pustaka
Atkinson, David. The Message of Genesis 1-11. Leicester:
Inter-Varsity Press, 1990.
Bergant, Dianne. Genesis: In the Beginning. Collegeville:
Liturgical Press, 2013.
Barrett, C. K. A Critical and Exegetical Commentary on the Acts of
the Apostles. The Edinburgh: T. & T. Clark, 1994.
Berky, Marian Osborne “Individual, Individualism” dalam Katharine Doob
Sakenfeld (eds.), The New Interpreter’s
Dictionary of the Bible, Vol. 3. Nashville: Abingdon Press, 2008.
Bowie, Walter Russell. The Book of Genesis. Nashville:
Abingdon Press, 1980
Dodd, Michael. “Consumerism” dalam Michael Downey (ed.), The New
Dictionary of Catholic Spirituality. Collegeville:
The Liturgical Press, 1993.
Fitzmyer. Joseph A. The Gospel According to Luke. Garden
City: Doubleday,1985.
_________The Acts of the Apostles: A New Translation with Introduction
and Commentary.Doubleday: New York,
1998.
Gowan, Donald E. From Eden to Babel: Genesis 1-11. Grand
Rapids: Eerdmans,1988.
Green, Joel B. (eds). Dictionary of Scripture and Ethics. Grand
Rapids: Baker Academic, 2011
_________“Persevering Together in Prayer: the Significance of Prayer in the
Acts of the Apostles” dalam Richard N. Longenecker
(ed.), Into God’s Presence: Prayer in the New Testament. Grand
Rapids: Eerdmans, 2001
Johnson, Luke Timothy. Brother of Jesus, friend of God: Studies in
the letter of`James. Grand Rapids: Eerdmans,
2004.
_________Sharing Possessions: What Faith Demands. Grand
Rapids: Eerdmans, 2011.
Krodel, Gerhard A. Acts. Minneapolis: Augsburg Publishing
House, 1986.
Kurz, William S. Acts of the Apostles. Grand Rapids: Baker
Academic, 2013.
Lawson, Steven J. “The priority of Biblical Preaching: An Expository Study
of Acts 2:42-47” dalam Bibliotheca
Sacra (April-Juni 2001): 198-217.
Michaels, J. Ramsey “Finding Yourself an Intercessor: New Testament Prayer
from Hebrews to Jude”, dalam Richard
N. Longenecker (ed.), Into God’s Presence: Prayer in the New
Testament.Grand Rapids: Eerdmans, 2001.
Nolland, John. Luke 9:21-18:34. Dallas, Texas: Word Books,
1993.
Haenchen, Ernst. Acts of the Apostles. Philadelphia:
Westminster, 1971.
Hanson, K. C. and Oakman, Douglas E. Palestine in the time of
Jesus: social structures and social conflicts. Minneapolis:
Fortress Press, 1998.
Hartin, Patrick J. A Spirituality of Perfection: Faith in
Action in the Letter of James. Collegeville: The Liturgical
Press, 1999.
O’Connor, Kathleen M. “Let All the People Praise You: Biblical Studies and
a Hermeneutics of Hunger” dalam The Catholic
Biblical Quarterly, 72 (2010):1-14
GAGASAN PENDUKUNG
oleh Alfonsus Jehadut
Bulan Kitab Suci Nasional
LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA
20176
KOMISI KKS Keuskupan
Surabaya
Online gambling 'no deposit bonus' no deposit bonus codes
BalasHapusOnline gambling no deposit bonus codes, free 평택 출장샵 bonus no 군포 출장마사지 deposit 하남 출장샵 offers and free cash offers in Canada. Try online 강원도 출장샵 casinos with no deposit bonus codes and get 제주 출장샵 free